Jumat, 04 Desember 2009

BUDIDAYA POHON LONTAR


Tujuh alat sederhana yang dipakai dalam penyadapan (istilah dalam bahasa madura pulau giligenting ngaremo)
1. pangghepek, yaitu suatu jepitan kayu, panjangnya kira-kira setengah meter, salah satu ujungnya diikat dan merupakan suatu alat pemeras.

2. baghung, adalah tempat bahan pencampur nira hasil sadapan dari tempurung kelapa.

3. timba yang dibuat dari daun lontar dan dipakai dalam penyadapan,dan digantung di pohon untuk menampung nira.

4. bejut, adalah keranjang kecil dari daun lontar, untuk menopang timba yang tergantung di pohon.

5. cambut, adalah tanduk kerbau yang mempunyai dua kaitan, kaitan pertama tersemat pada ikat pinggang penyadap dan yang lainnya untuk menggantung baghung dan timba.

6. pethok, adalah sabit kecil dan sangat tajam.untuk mengiris mayang.

7. kalas,sebuah tambang dari kulit batang daun lontar panjang setengah meter dipakai untuk memanjat lontar
Pohon Lontar

Tahap-tahap penyadapan
Dalam menyadap, penyadap memilih pohon jantan yang mayangnya sudah berkembang sepenuhnya semua tunas-tunas yang bercabang sudah tumbuh dan bunga-bunga kecil mulai tumbuh dan Lontar betina harus dipilih sebelum tumbuh buah pada mayangnya.

Persiapan pohon untuk disadap meliputi beberapa tahap. Pertama tama pohon disiapkan untuk dipanjat,Pertama-tama pemanjat memanjat pohon dan membersihakan puncak pohon, memangkas daun-daun yang rusak dan patah , membersihkan duri-duri dari tepi daun-daun yang tidak dipangkas. Pada setiap mayang yang akan disadap diikatkan tangkai daun unutk menupangnya. kemudian ia menunggu sampai bunga-bunga tumbuh lalu ia akan memotong pelepah-pelepah yang menggangu dan mematahkan tunas-tunas yang tidak akan disadap.

Ia akan menjepit tunas-tunas atau mayang yang masih muda dengan pangghepeknya untuk melunakkan dengan meremasnya.kegiatan ini berlangsung hingga beberapa kali dalam satu minggu tiga kali pengaremoan. Setelah terakhirnya, semua mayang dibiarkan dan diikat menjadi satu lalu dibiarkan satu atau dua malam.

Tahap berikutnya mengikat mayang dengan teratur, biasanya dua tunas dalam satu ikatan ; kelopak mayang itu dipotong atau dilengkungkan sehingga semua tunas-tunasnya terkulai ke bawah.

Kini mayang siap di sadap ujung setiap mayang dipotong tipis sekali atau dua kali untuk mengalirkan nira makin tipis potongan itu makin lama pohon lontar menghasilkan.Aliran nira ini baru berhenti apabila tunas atau mayang telah dipotong sampai kedasarnya.dan penyadapan dilakukan pada pagi hari dan sore hari


Timba yang telah penuh itu dipasang pada pagi sehari sebelumnya dan timba kosong yang dipasang sore itu akan diambil pada pagi keesokan harinya. Air nira kemudian dibawa menuju dapur untuk diproses menjadi gula lempeng. Setelah sekitar lebih dari sejam, cairan dikentalkan lagi. Cairan nira yang telah kental kecoklatan dituang ke dalam gelang-gelang daun lontar dan mengeras berbentuk lempeng-lempeng.Gula dari nira pohon lontar terkenal berasal dari giligenting. Masyarakatnya mengandalkan kesehariannya dengan pohon lontar, termasuk perekonomiannya. Mereka menjual gula lempeng itu seharga Rp 10.000 setiap kilogram atau berisi sekitar 26 gula lempeng

Gula Lempeng Lontar


Mamafaat pohon lontar
Bagian atas batang yang lunak yang mengandung banyak pati, dapat dipanen dan dimakan pada saat kekurangan makanan (paceklik); sedangkan setinggi 10 m dari bagian paling bawah batang merupakan bagian kayu yang keras dan kuat, bagus untuk konstruksi gedung dan jembatan. Bagian yang agak lunak di bagian tengah dapat dibelah menjadi papan.Semai di dalam tanah dan menyerupai umbi kadang-kadang dimanfaatkan sebagai sayuran yang mengandung pati, dimakan setelah dimasak atau dalam bentuk segar. Produk utamanya adalah sari buah yang diambil dari sadapan perbungaannya, yang bisa diminum secara langsung atau diproses menjadi gula atau mengalami fermentasi lebih dulu selama beberapa jam untuk menjadi toddy. Anggur palem ringan ini dengan kandungan 5—6% alkohol, akhirnya bisa berubah menjadi etanol sulingan (arak) atau cuka. Sedangkan daun maupun bagian lain dari pohon ini dimanfaatkan masyarakat untuk membuat kerajinan yang digunakan untuk keperluan sehari-hari. Daunnya dahulu digunakan untuk menulis surat, tetapi sampai kini masih tetap digunakan sebagai atap lalang dan awet, paling tidak dapat bertahan selama 2 tahun. Selain itu digunakan juga sebagai keranjang basket, sikat dan ember; serabut dari daun mudanya dapat ditenun menjadi anyaman yang bagus. Tangkai daunnya seringkali digunakan sebagai batang pagar atau kayu bakar dan dapat diurai menjadi serabut yang dapat digunakan untuk tenunan dan tikar. Kayu dan daun juga digunakan sebagai bahan bakar. Mesokarp buah muda dapat dimasak sebagai gulai. Buah masak dengan daging buah berwarna kuning juga enak dimakan. Endosperma yang muda dan padat atau berpulut dari biji juga dapat dimakan secara segar atau dicampur dengan sirup. Ketika masih muda daging bijinya masih lembut dan dapat dimakan. Gula yang dihasilkan oleh pohon lontar dipakai untuk pewarna coklat pada makanan. Selain itu gula tersebut dipakai juga untuk nyareni (memperkuat warna alami). Ketika masih muda daging bijinya masih lembut dan dapat dimakan. Pohon Lontar juga merupakan sumber karbohidrat.

Nama lokal pohon lontar
Pohon Lontar, tal (Jawa), pohon siwalan (Banjar), Pohon tuwak (Timor), Lonta (Minangkabau),Bhungkana karakara (Kangean), Jun tal (Sumbawa), Ental , Rontal (Bali), manggitu, menggitu (Sumba timur), puu kori (Ende), Tala (Makasar), Tua (Roti), Aalun (Wetar), Kolir watan (Seram Timur), Seriari (Yautefa).

Pohon lontar mempunyai batang tunggal dan berakar serabut, dapat mencapai tinggi 30 m ini berbatang kasap, agak kehitam-hitaman, dengan penebalan sisa pelepah daun di bagian bawah. Tajuknya rimbun dan membulat, daun-daun tuanya terkulai tetapi tetap melekat di ujung batang. Pelepah pendek, agak jingga, bercelah dipangkal, berijuk. Pelepah dan tangkai daun tepinya berduri hitam tidak teratur. Daun seperti kipas, bundar, kaku, bercangap menjari, hijau keabu-abuan. Perbungaan berumah dua, menerobos celah pelepah, menggantung. Bunga betinanya kadang-kadang bercabang sedang bunga jantan bercabang banyak. Bunga berwama putih susu, berkelompok, tertanam pada tongkolnya. Buah agak bulat, bergaris tengah 7 - 20 cm, ungu tua sampai hitam, pucuknya kekuningan. Buah berisi 3 bakal biji. Daging buah muda warna putih kaca/transparan, daging buah dewasa/tua warna kuning kemudian berubah menjadi serabut.

1 komentar:

  1. Salam,
    Saya tertarik blog anda. akan jauh lebih optimal bila anda menerbitkan posting yang lebih spicifik tentang Gili Genting, dalam perspektif budaya, tradisi lingkungan, kelautan dan detai geografis. Trim dan Sukses

    BalasHapus

Anda ya....Karena Komentar Anda Adalah Bentuk Kepedulian Terhadap Kami....
Terima Kasih

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

GILIGENTING POLO RADDIN

Silahkan Baca Juga